Lompat ke isi utama

Berita

Mengenal Sartika, Peserta SKPP Yang Berasal Dari Pulau Berhati Emas

Mengenal Sartika, Peserta SKPP Yang Berasal Dari Pulau Berhati Emas
Tapaktuan - Panwaslih Provinsi Aceh mengadakan Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP) Tingkat Menengah di titik Kabupaten Aceh Selatan yang dilaksanakan pada tanggal 17 sampai dengan 20 Oktober 2021. Peserta SKPP Tingkat Menengah tersebut berjumlah 50 orang yang berasal dari lima kabupaten/kota yang salah satunya menjangkau daerah terluar dari Indonesia yaitu Kabupaten Simeulue. Sartika Rahayu, anak kedua dari lima bersaudara dengan orangtua yang berprofesi sebagai petani ini berasal dari salah satu pulau terluar Indonesia yaitu Pulau Simeulue. Berbeda dengan peserta dari daerah lain, Sartika harus berjuang menempuh perjalanan belasan jam menggunakan kapal laut untuk sampai ke Tapaktuan. Tentu dengan resiko gelombang tinggi, dan badai yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Kepada Tim Jurnalis Panwaslih Provinsi Aceh, ia menceritakan perjuangannya untuk mengikuti kegiatan SKPP Tingkat Menengah. Motivasi dan pengalaman yang ia dapatkan selama mengikuti kegiatan tersebut, hingga menjelaskan mengenai kekayaan alam Pulau Simeulue yang dijuluki sebagai Pulau Berhati Emas, berikut hasil wawancaranya : _Tolong ceritakan bagaimana perjuangan warga Simeulue jika ingin ke daratan Aceh, tantangan apa saja yang dihadapi?_ Masyarakat Pulau Simeulue yang ingin ke daratan Aceh maupun sebaliknya, harus menyeberangi lautan yang sangat luas, dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Bisa diperkirakan antara 9 sampai dengan 17 jam, belum lagi cuaca yang cerah dapat berubah sewaktu-waktu menjadi cuaca ekstrem disertai gelombang tinggi, pernah juga ada yang mengalami kondisi harus terombang-ambing di Samudera Indonesia selama 2 hari karena badai. Jika keberangkatan kapal harus ditunda demi keselamatan penumpang, kami sering terlantar di pelabuhan. Namun keadaan ini tidak menyurutkan semangat saya untuk mengikuti kegiatan SKPP Menengah ini. _Menilik dari semangat anda, apa motivasi anda mengikuti kegiatan SKPP Menengah ini?_ Saat ini saya sedang menempuh pendidikan Strata 1 jurusan Ilmu Politik di UIN Ar-Raniry, ilmu kepemiluan yang saya dapatkan dalam kegiatan ini tentu sangat linear dengan pendidikan yang sedang saya tempuh, saya bisa mengetahui bagaimana proses yang sebenarnya dalam sistem kepemiluan baik secara teoritis maupun secara praktis, sehingga memberi bekal kepada saya untuk menjadi pelopor pengawasan partisipatif bagi masyarakat di Pulau Simeulue. _Apa saja yang telah anda peroleh dari program SKPP Tingkat Menengah ini?_ Banyak sekali tentunya yang saya peroleh dari program ini, diantaranya, mengetahui bagaimana membangun integritas dalam bekerja, bagaimana peran masyarakat dalam pengawasan Pemilu serta bagaimana sistem Pemilu dan Kepartaian. Bagaimana strategi advokasi, apa jenis-jenis pelanggaran dan bagaimana penanganannya, bagaimana kolaborasi pengawasan partisipatif, apa itu pemetaan sosial, dan masih banyak materi lainnya yang saya dapatkan. _Dalam ajang Bawaslu Award 2019, Panwaslih Kabupaten Simeulue, memperoleh penghargaan Terbaik 1 se-Indonesia pada kategori Penyesaian Sengketa Terbaik, apa tanggapan anda?_ Sebagai pemuda Pulau Simeulue, saya sangat bangga dengan prestasi tersebut, ini membuktikan bahwa kami yang dari pulau terluar Indonesia sebenarnya juga mampu meraih prestasi terbaik dikancah nasional sekalipun, asal kami bersungguh-sungguh, bekerjasama dengan baik serta menerapkan nilai-nilai integritas dalam bekerja. _Berbicara mengenai Pulau Simeulue, terdapat julukan Pulau Berhati Emas, apa maknanya?_ Pulau Simeuleu adalah pulau yang kharismatik dengan julukan yang unik yaitu “Ate Fulawan”, kata tersebut berasal dari bahasa Devayan yang artinya Pulau Berhati Emas, makna dari kata Ate Fulawan menggambarkan kekayaan alam Pulau Simeulue yang dihasilkan dari darat dan laut serta sebagai ungkapan kecintaan masyarakat pulau Simeulue terhadap daerahnya. _Terakhir, Selaku pemuda yang berasal dari wilayah terluar, adakah motivasi untuk membuktikan diri untuk menjadi yang terbaik?_ Saya hanyalah seorang anak dengan kehidupan yang sederhana dari pulau terluar Indonesia, bahkan saya adalah peserta dengan umur paling muda diantara yang lain, namun begitu, seluruh keterbatasan, hambatan dan rintangan yang saya hadapi, justru akan saya jadikan kekuatan bagi saya untuk menunjukkan bahwa saya mampu menjadi yang terbaik dengan cara memberi manfaat bagi orang banyak. [IM]
toast

Media Sosial

news

Lokasi Bawaslu Provinsi

tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle
tanya

Konsultasi
Hukum Kepemiluan

Tanyakan right-circle